Menjelang Natal, Ketua LMI Pdt Hanny Pantouw Serukan Persatuan dan Keamanan di Sulawesi Utara

oleh -102 Dilihat
oleh

Tangkapan Manado – Menjelang perayaan Natal 2025, suasana di Sulawesi Utara mulai dipenuhi berbagai persiapan rohani, tradisi budaya, hingga kegiatan sosial yang telah menjadi ciri khas masyarakat di daerah ini. Di tengah rangkaian aktivitas tersebut, Ketua Laskar Manguni Indonesia (LMI) yang juga menjabat sebagai Ketua Sinode GBI Sulut–Gorontalo, Pdt Hanny Pantouw STh, menyampaikan seruan penting kepada seluruh warga Sulawesi Utara. Seruan itu berisi ajakan untuk memperkuat keamanan, kerukunan, dan persatuan sebagai fondasi utama dalam menyambut bulan perayaan keagamaan yang sangat berarti bagi umat Kristiani.

Seruan itu disampaikan pada Kamis (27/11/2025), bertepatan dengan semakin dekatnya agenda ibadah dan perayaan Natal yang akan berlangsung mulai 1 hingga 25 Desember 2025 di berbagai gereja, komunitas, dan pusat keramaian di seluruh wilayah Sulawesi Utara.

“Saya menghimbau tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh adat agar bersama menjaga Sulawesi Utara tetap aman dan kondusif,” ujar Pdt Hanny Pantouw.

Sebagai tokoh agama dan pimpinan organisasi adat paling berpengaruh di Sulawesi Utara, pendapat Pantouw sering menjadi rujukan masyarakat luas. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga keharmonisan bukan hanya berada di pundak masyarakat lokal atau umat Kristiani saja, melainkan seluruh warga, tanpa memandang suku, agama, ras, maupun latar belakang budaya.


Sulawesi Utara: Rumah Kerukunan yang Harus Dijaga Bersama

Dalam penjelasannya, Pdt Pantouw menyebutkan bahwa Sulawesi Utara—khususnya Kota Manado—telah lama dikenal sebagai ikon toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Sebutan seperti City of Tolerance, Torang Samua Basudara, dan Si Tou Timou Tumou Tou bukan hanya sekadar slogan, melainkan nilai-nilai yang tumbuh, hidup, dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sulut.

Ia mengingatkan bahwa rekam jejak panjang keharmonisan ini tidak datang dengan sendirinya. Ada kerja sama lintas agama, pelibatan tokoh adat, sinergi pemerintah daerah, serta partisipasi aktif masyarakat yang bersama-sama memastikan bahwa perbedaan bukan menjadi pemicu konflik, tetapi justru menjadi kekuatan bagi daerah.

Namun, menurutnya, predikat baik itu harus terus dirawat. Dengan semakin cepatnya arus informasi, meningkatnya dinamika sosial, serta potensi provokasi yang dapat muncul melalui media sosial, masyarakat harus tetap waspada dan tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang ingin menggoyahkan stabilitas daerah.


Ajakan Agar Tidak Mudah Terprovokasi

Pdt Pantouw menegaskan bahwa kegiatan keagamaan seperti Natal selalu menjadi momentum yang sensitif. Banyak pihak yang bisa saja memanfaatkan situasi untuk menciptakan keresahan, baik melalui provokasi, isu intoleransi, maupun penyebaran hoaks di media sosial.

Oleh karena itu, ia mengimbau seluruh masyarakat Sulawesi Utara untuk tetap tenang, kritis, dan tidak langsung percaya dengan setiap informasi yang beredar.

“Jangan mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin mengganggu stabilitas daerah. Kerukunan umat beragama harus berlandaskan cinta dan kasih,” tegasnya.

Menurut Pantouw, pondasi cinta kasih itu tidak hanya berlaku dalam hubungan antarumat seagama, tetapi juga lintas keyakinan dan lintas budaya. Membangun ruang dialog, menghormati perbedaan, dan saling mendukung dalam kehidupan bermasyarakat adalah inti dari upaya menjaga keharmonisan Sulut.


Natal 2025 dan Semangat Kebersamaan Masyarakat Sulut

Setiap menjelang Natal, suasana di Manado dan wilayah sekitarnya selalu dipenuhi berbagai kegiatan seperti:

  • ibadah pra-Natal,

  • konser dan parade Natal,

  • kegiatan sosial dan bakti kasih,

  • penyaluran bantuan,

  • hingga acara budaya khas Minahasa dan etnis lain yang hidup berdampingan di Sulut.

Rangkaian kegiatan ini melibatkan ribuan warga dari berbagai komunitas, sehingga aspek keamanan dan kondusivitas menjadi hal yang sangat penting. Pemerintah daerah, TNI–Polri, tokoh agama, dan organisasi adat pun biasanya berkolaborasi dalam menyiapkan langkah-langkah pengamanan untuk memastikan seluruh kegiatan berjalan aman, tertib, dan damai.

Dalam konteks inilah seruan Pdt Hanny Pantouw menjadi sangat relevan. Ia ingin memastikan bahwa masyarakat tetap menjaga persatuan, saling menghormati, dan terus menghidupkan nilai Torang Samua Basudara dalam setiap momentum Natal.


Pesan Penutup: Sulut Sebagai Teladan Nasional

Lebih jauh, Pantouw menyampaikan harapannya agar Sulawesi Utara tidak hanya mempertahankan predikat daerah paling rukun di Indonesia, tetapi justru menjadi teladan bagi provinsi lain. Ia percaya bahwa kerukunan yang dibangun di Sulut dapat menjadi model nasional jika terus ditopang oleh nilai budaya, kekuatan komunitas, dan komitmen bersama.

Bagi Pdt Pantouw, Natal bukan hanya perayaan keagamaan, tetapi juga saat untuk mempererat tali persaudaraan dan menunjukkan bahwa masyarakat Sulawesi Utara mampu menjaga kedamaian serta memberikan contoh bagaimana hidup dalam keberagaman.

Dengan semangat itu, ia kembali menegaskan bahwa menjaga keamanan, kerukunan, dan toleransi bukan hanya tugas satu kelompok, melainkan panggilan moral seluruh warga yang mencintai tanah Minahasa dan Sulawesi Utara.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.